Salah satu ilmu di kalangan pesantren adalah Ilmu Laduni. Biasanya rujukan bahasannya pada kitab Al-fiyah Ibnu Malik; “Wafi Ladunni Laduni qalla wafi, qadni wa qathni alhadfu aidzan qad yafii”, kurang lebih artinya “jangan berharap mendapatkan ilmu tanpa usaha belajar (Laduni), sebab hal itu hanya dapat diraih oleh orang yang khos (spesifik)”. Pada bait syair ini, ada pengakuan bahwa ilmu Laduni itu ada, namun hanya didapati oleh orang yang khusus (tertentu) saja.
Dari pengakuan adanya ilmu laduni ini, penulis mencoba menghubungkan dengan temuan seorang ilmuan William McDougall. Ia melakukan ujicoba pada tikus jantan dan betina yang merupakan spesies tikus putih, dari strain Wistar, yang telah dibesarkan dengan hati-hati di bawah kondisi laboratorium selama beberapa generasi. Tugas mereka adalah belajar melarikan diri dari tangki air yang dibangun khusus dengan berenang ke salah satu dari dua gang yang mengarah keluar dari air.
Eksperimen ini dilakukan pada tikus sebanyak 32 generasi dan membutuhkan waktu 15 tahun untuk menyelesaikannya. Ternyata ada kecendrungan, generasi tikus berikutnya lebih cepat belajarnya, bahkan melebihi generasi tikus sebelumnya, sedangkan generasi tikus yang belajarnya lambat, generasi tikus keturunannya juga relative lambat. Dari ujicoba ini, maka bisa disimpulkan ternyata pengetahuan bisa diturunkan ke generasi selanjutnya.
Rubert Sheldrake berbicara tentang bidang morfogenetik (atau bidang-M) sebagai pola pengorganisasian yang tak terlihat yang bertindak seperti templat energi untuk menetapkan bentuk pada berbagai tingkat kehidupan. Sederhananya, capaian-capaian kehidupan masa lalu leluhur kita, hingga ke generasi berikutnya, dan berikutnya, hingga sampai pada kita, sebenarnya diwariskan kepada kita.
Mari kita perhatikan anak-anak kecil sekarang, yang lebih cepat paham teknologi, padahal pegang gadget baru beberapa saat. Kenapa ini bisa terjadi pada anak kecil? Ya, karena semua pengetahuan manusia sejak manusia pertama sampai sekarang semua databasenya ada di medan morfogenetik, hasil pembelajaran semua manusia saat ia belajar sesuatu juga diupload ke medan yang sama.
Kalau kita memperhatikan anak kecil, tentu ada banyak kelebihannya. Khususnya, kondisi gelombang otaknya yang kebanyakan berada di gelombang otak tenang, jauh dari ruwet. Dan sebenarnya, semua manusia dewasa sekalipun dalam keadaan batin tertentu, bisa mendownload pengetahuan di medan morfogenetik. Alhasil, jika ada orang yang tiba-tiba bisa dan tiba-tiba paham, kemungkinan besar secara sadar maupun tidak sadar telah mengakses medan tersebut
Mungkin saja, kondisi mengakses medan morfogenetik ini, pernah dialami oleh Mbah Kholil (Syaikhona Kholil) saat mendapatkan ilmu Laduni, ia belajar kepada Kiyai Abu Dzarrin Pasuruan yang sudah meninggal. Menurut cerita, Mbah Kholil menghatamkan Al-Qur’an di pusaranya selama 41 hari, tiba-tiba Mbah Kholil tertidur. Dalam mimpi Kiyai Abu Dzarrin mengajari Mbah Kholil beberapa kitab dalam Fan Nahwu. Ajaibnya, ketika bangun, semua yang diajarkan di alam mimpi, masih melekat dalam ingatannya. Konon kitab yang diajarkan Kiai Abu Dzarrin dalam mimpi Kiai Kholil itu adalah Jurumiah, Alfiah dan Imrithy.
Inilah penjelasan bagaimana Ilmu Laduni bekerja, sebagaimana yang dialami oleh kalangan Pesantren, yang saat ini masih dianggap mitos oleh kalangan di luar pesantren. Kalaupun mempercayai penjelasan ini, itupun akan memilih kesimpulam pertama, yakni pengetahuan diturunkan ke generasi selanjutnya.
Kata kuncinya, jika mau mengakses medan morfogenetik, yaitu membuat atensi dan membangun koneksi. Orang Pesantren juga mempunyai tradisi membangun koneksi ini, dan menyebutnya sebagai tawasshul. Dengan melakukan tawasshul (mengirim fatihah) kepada Ulama tertentu yang mempunyai tingkat spiritual tertentu dan berkualitas secara keilmuan khususnya guru guru kita, berarti sudah membangun koneksi kepada ulama tersebut. Ketika sudah terbangun koneksinya, selanjutnya niat mau duplikasi pengetahuannya, dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.
Dan semoga para alumni pondok pesantren darulhuda LEBAKKAJANG dimanapun berada,tidak lupa bertawasul,mengirim alfatihah kepada mbah kh Muhamad Rusdy,mbah nyai dewi aisyah dan kh najmudin rusdy.
Pesan saya sebagai penulis kepada alumni;tetap berakidah ahlusunah waljamaah dan tetap membumbungkan pondok pesantren kita,mengajak saudara saudaranya untuk masuk dari bagian pondok pesantren darulhuda LEBAKKAJANG,sekian.
- *m.agunghasanadia






